Saiful Jihad Urai Peran Generasi Muda dalam Pendidikan Demokrasi
|
Makassar, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Anggota Bawaslu Sulsel Saiful Jihad mengungkapkan posisi generasi muda dalam perkembangan pendidikan demokrasi sangat strategis. Hanya saja, saat bicara tentang pemilih pemula, mereka lebih banyak ditempatkan sebagai objek ketimbang subjek dari pendidikan demokrasi.
Saiful Jihad mengatakan generasi muda tidak jarang ditempatkan hanya sebagai sumber tambahan suara, bagaimana menaikkan partisipasi mereka untuk memberi pilihan dalam pemilu atau pemilihan. Kondisi seperti ini mesti menyadarkan pemilih pemula dan pemilih generasi muda, bahwa pemilu yang dihadirkan mestinya memihak pada penguatan ketercapaian kepentingan pemilih itu sendiri.
Untuk itu kata Saiful Jihad, pendidikan demokrasi yang melahirkan kesadaran personal dan komunitas pemilih generasi muda menjadi hal mesti dihadirkan.
"Pada ruang diskusi ini, inisiasi GASPOL dan kehadiran sahabat-sahabat kaum muda dari organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan dapat memotori pendidikan demokrasi bagi kaum muda menjadi penting dan strategis. Oleh karena itu, apa yang dilakukan ini menjadi sangat strategis sehingga dapat menjawab harapan di atas," kata Koordinator Divisi Humas Bawaslu Provinsi Sulsel ini saat berbicara dalam diskusi tematik "Menjalin Persatuan Mewujudkan Harapan" di Makassar, Selasa (21/12/2021).
Kegiatan yang diinisiasi Gaspol menggandeng Bawaslu Kota Makassar, Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan, dan Tim Asistenti Bawaslu Republik Indonesia sebagai pemateri diskusi serta kelompok CIPAYUNG Plus dan OKP kota Makassar (HMI, GMKI, GMNI, PMKRI, PMII, IMM, KMK UNHAS, dan PERMAHI) sebagai penanggap yang turut memboboti materi diskusi.
Sementara itu, Ketua GASPOL Makassar Amsal mengungkapkan bahwa secara rasional peserta pemilu atau partai politik di Indonesia memiliki kemampuan dan metode yang berbeda-beda dalam mempersiapkan strategi menghadapi Pemilu tahun 2024. Oleh karena itu, pemilih (masyarakat) juga perlu dibekali dengan pemahaman tentang nilai-nilai demokrasi dan kepemiluan.
Hal ini kata dia, dimaksudkan supaya dapat membangun karakter pemilih yang rasional dalam menentukan pemimpim bangsa Indonesia ke depan. Pada kesempatan ini, GASPOL telah mengadakan diskusi tematik, diisi oleh tiga pemateri yang masing-masing memberikan sudut pandangnya terkait peran dan fungsi pemilih pemula dalam menghadapi pemilu tahun 2024.
Dalam kesempatannya, Anggota Bawaslu kota Makassar Abd. Hafid mengungkapkan apresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut. Ia mengatakan, generasi muda utamanya para pemilih pemula sebagai tema sentral yang dibahas dalam diskusi webiner tematik ini dapat berlanjut secara berkesinambungan, dan kolaborasi dengan organisasi Kemahasiswaan yang sudah bergabung agar tetap senantiasa menjaga silaturrahminya.
Tim Asistensi Bawaslu RI Masmulyadi sendiri berpendapat bahwa dari satu juta lebih pemilih berdasarkan pemuktahiran DPT berkelanjutan yang dilakukan KPU Sulsel, 30 persen adalah pemilih muda (17 – 30). Meski besar secara jumlah, tapi terfragmentasi.
"Oleh karena itu, kaum muda perlu mengorganisir diri dengan membangun jejaring positif dalam kerangka berpikir global yang selalu ber-aksi lokal. Apalagi menghadapi pemilu 2024 dengan aksi-aksi kolektif,†katanya.
Adapun tanggapan yang disampaikan oleh kelompok CIPAYUNG Plus dan OKP ialah pertama, mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh GASPOL Makassar. Kedua, sistem demokrasi yg masih tergolong muda di Indonesia merupakan sistem yang harus dirawat. Perlu meninjau kembali sitem kelola demokrasi dan mencarikan solusi bagi pemilih pemula untuk menyampaikan pilihannya secara sehat. Ketiga, secara potensial Pemilih pemula dapat menjadi peluan dan sekaligus menjadi tantangan bagi kemajuan demokrasi Indonesia. Oleh karena itu, Pemuda (pemilih pemula) memiliki peranan penting dalam tatanan demokrasi, pemilih pemula harus mampu menyaring informasi secara kritis serta memberi informasi bagi masyarakat.
/uploadsPada akhir sesi, Salwa (Sekretaris GASPOL) sebagai moderator menyimpulkan bahwa generasi muda punya potensi besar dalam Pemilu tahun 2024 dengan presentase 54 persen. Harapan di balik potensi ini ialah semoga generasi muda dapat menjadi pemilih pemula yang memiliki literasi politik sebagai bekal untuk menentukan pilihan dalam pemilu, sehingga pilihan yang dipilih benar-benar berdasarkan kemampuan dan rekam jejak yang positif. Harapan selanjutnya bahwa Bawaslu dan KPU sebagai penyelenggara Pemilu perlu tegas, konsisten, dan berintegritas dalam menjalankan aturan tanpa memandang status peserta pemilu.
Penulis: Amsal
Editor : M Chaidir Pratama